_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"wizamisasi.com","urls":{"Home":"https://wizamisasi.com","Category":"https://wizamisasi.com/category/bisnis/","Archive":"https://wizamisasi.com/2016/12/","Post":"https://wizamisasi.com/cara-membuat-jelly-art/","Page":"https://wizamisasi.com/kontak-admin/","Attachment":"https://wizamisasi.com/cara-membuat-slime/membuat-slime-dari-bedak-bayi/","Nav_menu_item":"https://wizamisasi.com/1852/","Feedback":"https://wizamisasi.com/?post_type=feedback&p=2020"}}_ap_ufee

Pembelajaran untuk Sang Jawara

Terlahir oleh ibu yang berprofesi sebagai guru. Beliau mendidik anak-anaknya dengan perhatian dan kasih sayang tulus. Terlepas dari itu, sang ayah yang rela bekerja keras demi menyekolahkan kami kelak sampai ke perguruan tinggi. Di sini aku akan sharing pengalaman masa kecilku dulu kelas 5 SD. Setidaknya pengalaman ku ini bisa diambil menjadi motivasi untuk para pembaca apabila kalian menghadapi rintangan terberat dan saat-saat dimana kalian akan dihadapkan pada titik antara dilema dan galau.

Tak pernah terpintas di benak saat umurku 10 tahun aku berhasil juara 1 perlombaan Pidato Bahasa Inggris Se Kabupaten Sidoarjo. Puji syukur berkat izin Allah SWT. aku bisa membanggakan sekolah dan keluarga ku kala itu. Mundur ke belakang. dimulai pada saat sekolah ku ingin melibatkan muridnya ke dalam perlombaan Pidato Bahasa Inggris Tingkat Kabupaten .  Lalu Kepala sekolah menugaskan Pak Hadi untuk  mencari seorang murid yang sekiranya bisa berbahasa inggris secara ucapan meskipun kurang lancar. Rizal dan aku terpilih untuk mewakili perlombaan tersebut. Setiap sore hari ba’da ashar lidah kami dilatih oleh Pak Hadi agar tidak kaku saat mengucapkan tiap kata perkata yang ada dalam teks pidato. Memang ini susah, namun perlu kebiasaan agar lidah kami bisa luwes setidaknya seperti Cinta Laura. Anehnya, Pak Hadi yang berprofesi sebagai guru IPA  mampu mebuat naskah pidato sebanyak 3 paragraf tanpa google translate. Bagi ku sendiri tentu ini sudah diluar batas kewajaran seorang guru yang tidak hanya berkonsentrasi pada satu subjek pelajaran saja.

Seminggu menjelang perlombaan. Teman ku, Rizal memutuskan untuk mundur. Keputusan Rizal tersebut seketika membuat ku mulai rapuh dan bimbang. Maklumlah namanya juga anak kecil, sekali tidak ada teman langsung gampang goyah. Namun kala itu Ibu ku  menguatkan ku untuk tetap stay dan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Detik detik perlombaan

Ilustrasi Pidato

heroesnarrative.org

Persiapan matang dan mental  yang tangguh beradu di sebuah gedung serbaguna Departemen Agama, Sidoarjo . Beberapa sekolah membawa murid andalannya masing-masing. Setidaknya ada sekitar 20 anak yang terlibat dalam ajang lomba ini. Giliran ku di mulai, jantungku mulai berdegub kencang. Maklum belum pernah aku berbicara di  depan publik seperti ini. Bersyukur Allah memudahkan ku malafalkan tiap kata perkata yang ada pada teks pidato tersebut. Tiba saatnya juri menilai para peserta yang sudah tampil. Juri menilai peserta dari kelancaran, pengucapan, naskah pidato dan kostum yang dikenakan peserta. Lalu berdirilah seorang MC membawa hasil diskusi para juri. Sejenak suasana menjadi hening. Sempat pesimis saat MC menyebutkan juara 2 dan 3. “Juara pertama adalah Wizam Robbani dari MI Nurul Huda Ngampelsari” tutur MC tersebut. Seketika jantungku langsung shock dan tidak menyangka kalau aku berhasil memenangkan perlombaaan ini. Hadiah juara utama  Rp. 100.000,-. tentunya jumlah yang lumayan besar untuk seorang anak kecil seperti ku kala itu. Naik peringkat ke se-tingkat Provinsi Jawa Timur. Salah satu Panitia Porseni Jawa Timur mengumumkan bahwa perlombaan akan digelar kembali pada 2 Minggu kedepan dan berlokasi Malang.

 

Kemampuan penguasaan panggung dan cara mengatur intonasi pidato mulai ditingkatkan. Bersyukur, Ibu ku yang mempunyai usaha LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) merekrut seorang anak buahnya, Mas Alim. Teks materi pidato yang digunakan masih menggunakan judul yang sama, hanya saja terdapat pergantian artikulasi kata makna yang kurang tepat.  Saat latihan memang aku sendiri tidak serius dan cenderung meremehkan.

Dua hari sebelum lomba, aku dan guru ku sudah berangkat ke Malang. Kami sengaja berangkat sebelum hari – H karena kami harus mencari penginapan terlebih dahulu. Singkat cerita, lomba sudah dimulai. Bis bis sekolah dari beberapa kota berjajar rapi. Sekolah Percontohan Malang menjadi tempat di mana para orator akan beradu skill dan penguasaan panggung. Tentunya ini merupakan pengalaman terbaik untuk ku sendiri.

Lomba dimulai, masih ingat saat itu aku mendapatkan nomer paling buncit diantara peserta yang lain. Singkat cerita, tiba saat ku untuk maju ke depan panggung. Tatapan dewan juri dan para penonton membuat ku nervous. Semua skill pengucapan dan penguasaan panggung telah ku terapkan. Seusai lomba, para juri mulai berdiskusi untuk penilaian peserta. Namun sayang, aku kalah dalam perlombaan itu. Mungkin inilah akibat dari meremahkan sebuah lawan. Aku terlalu percaya diri dengan diriku sendiri.

Intinya adalah tetap semngat dan berusaha. Jangan pernah meremehkan sesuatu hal yang kecil sekalipun, karena sesuatu yang kecil akan berdampak besar bila terus diremehkan.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: